Tuesday, January 20, 2015

Inspirasi Melawan Korupsi

Published in Youth Proactive , 2015
[The article, in Bahasa Indonesia, is about IYC 2015 in Cambodia, a camping ground for Asia Pacific youth to discuss human rights, good governance, and anti-campaign advocacy. IYC tools and applications were delivered effectively through the presentations, group discussions, role plays and demonstrative games].


Korupsi merupakan permasalahan utama banyak bangsa di dunia. Dalam sepuluh tahun terakhir, muncul aksi bersama dan terintegrasi dalam melawan korupsi antar bangsa, pun di kalangan anak muda.

Mengambil tempat di Siem Reap, Kamboja,  Transparency International Cambodia mengundang 37 perwakilan Pemuda dari Filipina, Pakistan,  Bangladesh, Vietnam, Kamboja, Malaysia dan  Indonesia diwakili Miftahul Fauzi-Universitas Riau, Laensugi Rante Tandung-Universitas Hasanuddin, Indra Dwi Prasetyo-Universitas Tanjung Pura, Nurlaili Azizah-Universitas Airlangga dan saya-Universitas Indonesia, untuk bergerak bersama membangun gerakan antikorupsi dalam International Youth Camp on Youth Empowerment for Transparency and Integrity pada 4 -10 Januari 2015 lalu.



Berbeda dengan Youth Forum pada umumnya, acara yang berlangsung di Provincial Teacher Training College ini menarik, karena delegasi diinapkan dalam tenda-tenda besar. Masing-masing tenda di isi oleh tiga perwakilan negara berbeda. Dalam tenda seukuran 2×3 meter penghuni tenda bisa sharing ide dan pengalaman dalam cari solusi atasi korupsi.


Rangkaian kegiatan dimulai dengan kayuh sepeda bersama menuju Angkor Wat.  Sebuah situs sejarah yang ternyata benar-benar menakjubkan. Seiring kaki melangkah, lekuk Angkor Wat semakin terasa indah. Jejak gerak antikorupsi di situs eksotis, kami torehkan dengan membagi Kalender 2015 yang disiapkan oleh Transparency International Cambodia, pada pengunjung dan penduduk setempat yang kami jumpai. Dimana dalam kalender tersebut, terdapat informasi mengenai kontak yang bisa dihubungi  untuk melaporan jika terjadi penyuapan.

Didampingi oleh perwakilan dari Transparency International Indonesia, William Umboh dan Rukita Widodo, day by day, pengetahuan tentang korupsi semakin jelas.  Ulasan mengenai hak, hukum, politik, prinsip-prinsip dasar United Nations diuraikan dengan menarik sehingga mudah untuk dipahami. Terlebih ketika diseling dengan games dan samples praktis.
Contoh saat permainan menjaga enam telur selama satu hari. Dimana setiap kelompok yang terdiri dari lebih dari lima orang ditugaskan untuk mengawasi telur dari pencuri. Kami bergantian menjaga. Namun, ternyata seluruh telur hilang dicuri oleh anggota kelompok sendiri. Melalui permainan ini terjelaskan bahwa korupsi bisa terjadi dimana saja dan dengan siapa saja bahkan dengan orang yang dipercaya sekalipun.

 Ada pula Politikoffee. Kegiatan di kalangan pemuda Kamboja, yang juga telah dilakukan oleh Youth Proactive, yakni menikmati kopi sambil berdiskusi mengenai politik. Pemuda memang tidak terlibat langsung dalam politik tetapi pemuda memiliki andil untuk mengawasi dan melaporkan jika terjadi sesuatu yang tidak benar dalam politik. Pemuda juga bisa ikut andil dalam menjaga proses pemilu, yang pasti pemuda merupakan bibit generasi yang akan datang. Sementara untuk mempermudah advokasi melalui internet kami mendapat presentasi mengenai pengaplikasian teknologi dan informasi serta pengelolaan dana untuk menjalankan program kerja anti korupsi, diantaranya dengan menggunakan perangkat penghubung dan penyimpan data seperti Dropbox, Trello atau Basecamp. Adapula perangkat untuk mempermudah pengimplementasi seperti Coggle, Survey Monkey, atau Kwik Surveys.

Hampir setiap malam acara ditutup dengan persembahan dari masing-masing negara peserta, mulai dari tarian, nyanyian hingga aneka permainan tradisional. Di akhir acara diadakan penurunan bendera Kamboja dan memadamkan api unggun. Jika diawal acara ada pre-test, diakhir acara juga diadakan test untuk mengetahui seberapa paham materi yang disampaikan selama acara berlangsung.

Penutup, keberlanjutan dari International Youth Camp ini adalah project joint initiative dan project per negara. Dalam project regional seluruh peserta dibagi dalam tiga kelompok. Setiap kelompok berdiskusi untuk memberikan saran project yang akan dilakukan seusai acara ini. Berbagai usal bermunculan. Termasuk usul kami,  Arts Against Corruption (yang kini diubah namanya menjadi Arts for Transparency). Berbagai jenis lomba, yang didedikasikan untuk melawan korupsi.

Sementara untuk project per negara, Indonesia memilih untuk membuat KAKI (Komik Antikorupsi Indonesia). Dengan tujuan, membuat pesan antikorupsi menjadi lebih mudah dipahami melalui gambar dan mengaitkannya dengan kegiatan sehari-hari. Seperti contohnya membiasakan diri untuk tidak menyontek, saling berbagi dan membiasakan diri berbuat jujur. KAKI rencananya akan didistribusikan ke pulau tempat asal delegasi tinggal yakni Sumatra, Sulawesi, Jawa dan Kalimantan. Walau demikian, tidak menutup kemungkinan jika ada kesempatan kami ingin meluas ke pulau lain.

Let’s learn together in (and after) the camp and always stand with us against corruption!


No comments: