Sunday, September 9, 2007

Dikejar kambing

Ssst Diary,

Suatu saat aku dan sahabatku pulang bersama dari tempat les. Sahabatku bernama Nur Fauziah. Sebenarnya kami ingin melewati jalan umum. Akan tetapi di sana penuh dengan asap kendaraan. Jadi kita putuskan untuk melewati kebun.

Di kebun itu kami senang sekali karena bisa melihat wilayah asri tanpa polusi. Tiba-tiba Nur Fauziah berlari ketakutan. Katanya ada kambing yang sering mengejar orang. Aku cuek saja. Lalu kambing itu berjalan melewatiku. Selama kambing itu berjalan, aku selalu meliriknya. Lama-lama wajah kambing itu seperti marah. Akhirnya akupun dikejarnya.
Banyak orang yang kaget dan tertawa. Untungnya pemilik kambing datang. Sampai sekarang, aku tidak takut dengan kambing itu hanya lebih berhati-hati kalau melewati kebun itu.

Dimuat di Oki Nirmala No. 28, Terbit 4 Desember 2006

Cadel from the brightside


R-nya Dani

Aku punya teman bernama Dani. Orangnya lincah, suka mencubit-cubit dan yang paling menakubkan dia punya bakat yang sangat menonjol, tidak bisa mengatakan huruf r. Dia seorang cadel. Kadang dia diejek karena kurang jelas saat mengatakan huruf r, tetapi menurut ku, dia bukan cadel biasa. Dia cadel yang berbakat berbahasa Perancis.

Selain berbakat berbahasa Perancis, Dani sepertinya cocok tinggal di negeri itu. Lihat saja menu makan bekal sekolahnya. Dia sering berbekal makanan ala Eropa; ada sandwich isi telor dan mayonais. Lalapnya juga gaya Eropa yaitu brokoli, tomat ldan steak sapi yang diolesi mayonais. Beda dengan menu makananku dan menu teman yang lain.

Sayang, sekarang dia seperti sedang berusaha menghilangkan bakatnya! Ia terus mencoba dan mencoba bicara r. Tak ada kata putus asa buatnya. Banyak yang ia lakukan, seperti belajar menguncapkan huruf r dalam lagu soundtrack cartoon Catdog.

Sekarang Dani sudah bisa sedikit menguncapkan huruf r ala Indonesia. Aku jadi kehilangan Dani yang Perancis.Its OK, Dani ….


( dimuat di Kompas Minggu, 3 Desember 2006)

Thursday, September 6, 2007

Dari sebuah lomba...


Menang


Lomba model telah berlalu

Aku bukanlah pemenangnya

Tapi aku telah juara karena dapat mengalahkan rasa sedihku

Aku akan tetap berusaha

Kelebihanku lebih dari satu

Kan kugunakan ini sebaik-baiknya

Kubuang sedih sejauh-jauhnya

Kuangkat semangat baruku

Semua tak akan jadi tanpa usaha
(dimuat di Bobo No.31, 9 Nopember 2006)

Monday, January 29, 2007

Menurutku,


(dimintai komentar tentang
Bagaimana jadi Pengguna Jalan yang Baik?)

Sebagai penumpang mobil, aku tidak membuang sampah sembarangan. Kalau jalanan macet, aku melarang mobilku menyalip. Nanti tambah macet! Kalau di jalan, aku berusaha tertib. Semua rambu aku perhatikan dan aku patuhi.

Aku paling sebal kalau lihat ada yang buang sampah di jalan. Kan jalan jadi kotor. Apalagi kalau yang dibuang sampah plastik.

(dimuat di Bobo No. 41, 19 Januari 2006)

Konferensi Anak Hemat Energi 2005






Pengalamanku Berhemat Air: Air Tidak Perlu DihematPengalamanku Ketika Air Terbatas: Air Tidak Pernah TerbatasAnggi NurqonitaKelas 4 SDN Kedungwuni 06 Pekalongan.

Air ada di mana-mana.Di laut, di sungai,di gunung, di kolam renang, di danau, di got, di bak air, di mana-mana ada air. Di Arab yang padang pasir aja, airnya malah dibagi-bagi ke seluruh orang berhaji. Kenapa Indonesia yang banyak air harus berhemat air?

Aku lahir di Banjarmasin yang banyak sungainya. Menurutku, air tidak perlu dihemat, tapi sungainya harus dirawat.Sungai yang bersih membuat airnya bisa dipakai untuk apa saja, semaunya, sebanyak-banyaknya. Mau mandi, mau nyuci-nyuci, mau masak, apa saja. Merawat air sungai agar tetap bersih ini yang penting. Misalnya jangan buang sampah ke sungai, biar sungai tetap bersih.

Aku sekarang tinggal di rumah Eyang di desa Kedungwuni, Pekalongan. Bak air di kamar mandinya besaaaaar, jadi airnya tidak pernah dikuras. Susah. Padahal jorok, banyak jentik-jentiknya. Beberapa saudaraku di Pekalongan yang ingin bak mandinya bersih memelihara ikan di dalam bak. Hiii…. Anehnya, di desa yang bak airnya tidak pernah dikuras orangnya jarang kena demam berdarah. Tapi di kota besar malah banyak yang kena demam berdarah. Why?
Aku dulu tinggal di Bangkok, Thailand. Di sana tidak ada bak air. Aku mandi pakai shower. Kata ayah pemakaian air bisa lebih hemat. Kalau mau berhemat air kenapa tidak dilarang saja memakai bak air di kamar mandi, diganti saja dengan shower, bisa lebih hemat dan sehat, karena tidak ada sarang nyamuk demam berdarah.
Di Singapura, air yang keluar dari kran bisa langsung diminum. Di sana orang harus hati-hati kalau mau memakai air kran. Siapa yang tidak menghargai air, tidak menutup keran hingga air terbuang, bisa kena denda. Jadi semua harus menghargai air.
Yang lainnya, kata Mama, kalau pipis di sekolah atau di manapun, aku harus pipis di tempat pipisnya, bukan di lantai kamar mandi. Biar hemat air karena nyiramnya gampang dan kamar mandinya tidak bau.
Itulah pengalamanku dengan air. Pokoknya, air harus dirawat, dipelihara, dihargai agar tetap bisa berguna, tidak hanya perlu dihemat.


(terpilih menjadi salah satu peserta Konferensi Anak Bobo 2005)
liputannya ada juga di sini

Kartinian di Pekalongan


Terima Kasih Ibu Kartini

Aku senang sekali ketika membaca Anak Kompas 27 Maret 2005 tentang internet.
Aku jadi teringat waktu aku tinggal di Bangkok, Thailand. Di sana aku tinggal dengan anak-anak dari banyak bangsa dan negara. AdBlessing dari Nigeria, Sarah dari France, Bui dari Viatnam, Sumber dari Mongolia, Anti dari Finland, Situmini dari Srilangka juga Vagisha dari India (lihat foto) dan masih banyak lagi yang lainnya. Dengan internet sekarang ini aku masih dapat berhubungan dengan mereka meskipun kini aku tinggal di desa kecil bernama Kedungwuni di Pekalongan.

Sekarang bulan April, kata mama biasanya pada tanggal 21 SD-SD di Indonesia ramai memperingati Hari kartini, seorang pahlawan perempuan yang terkenal karena sering bersurat-suratan dengan teman-temannya di Belanda. Lalu aku bertanya pada mama, kalau dulu Kartini surat-suratan bisa jadi pahlawan, sekarang kalau aku ber-e-mail-an dengan teman-teman dari banyak negara bisa engga seperti Ibu Kartini?

Mama kemudian menunjukan tiga buku tentang RA Kartini, yang covernya ada lukisan Kartini , perempuan dengan rambut digelung ke belakang, seperti nenekku di Banjarmasin. Ayah lalu menceritakan padaku tentang Kartini dan mengapa Kartini become very popular, sampai lagunya selalu dinyanyikan di sekolahku sampai sekarang.

Wah ternyata Kartini itu seorang perempuan yang ingin agar anak-anak perempuan di zaman dulu boleh sekolah, seperti anak laki-laki. Kartini senang berteman dengan banyak orang, belajar banyak bahasa asing dan membaca banyak buku biar perempuan bisa pintar. Cool…… Hebat…dengan contoh-contoh yang Ibu Kartini berikan, aku ingin bisa menjadi perempuan yang hebat.

Di Bangkok aku sering bermain dengan teman-teman lelaki, Doosan, Anti, Poem, Frans juga yang lain. Asyik! Tapi di sini, kalau aku bermain dengan teman lelaki sering diejekin pacar-pacaran. Anak perempuan hanya bermain dengan anak perempuan dan anak laki-laki bermainnya dengan sesama anak laki-laki.

Mendengar cerita mama tentang Ibu Kartini, sekarang ini aku ingin di sekolahku anak laki-laki dan perempuan bisa bermain bersama. Karena teman-teman di sini pun sama baik dan hebatnya dengan teman-teman di Bangkok. Apalagi aku sudah dipilih menjadi ketua regu di Pramuka. Aku harus bisa.

(dimuat di Kompas Minggu, 17 April 2005)

Keep moving


Prestasiku dari Jakarta – Bangkok – Pekalongan

Di Jakarta dulu waktu di TK gigiku ompong. Aku sedih sering diejekin. Lalu aku menulis puisi tentang gigi ompong dan ku kirim ke Lomba Puisi se Indonesia. Eh… Puisi itu jadi juara I juga juara
favorit. Aku jadi tidak sedih lagi. Lalu aku pindah ke Bangkok.

Di Bangkok, Grade one aku bisa jadi Student of The Month. Di Grade two aku Student of The Month juga. Karanganku “Poor Bird” dalam bahasa Inggris pernah di muat di newsletter AIT Community School Bangkok. Aku juga pernah juara III, Bicycle Race Competition dan dapat medali. Aku sering mewakili Indonesia dalam culture show antar bangsa.
Kelas III aku pindah ke Pekalongan.

Di Pekalongan aku sekolah di SD Favorit. Aku juga murid favorit. Apalagi saat tulisanku tentang Kartini di muat di Kompas. Di sekolah semua ikut bangga. Di sini aku rangking 10, karena ada pelajaran bahasa daerah yang susah. Tapi bahasa Inggris aku selalu dapat nilai 10 atau 9.
Itulah prestasiku selama ini. Aku ingin terus berprestasi.

(menjadi Juara III, mengarang “Prestasiku” yang diselenggarakan oleh Matahari Supermarket dalam rangka Festival Of Food & Fun 17 Juli 2005)

many chickens died


Poor Birds

The bird flu make me sad.
Because in AIT there are so many birds.
Now I can not play with birds.
My parent and my teacher told me Don’t play with the birds. What can we do to make the bird flu go away?
So I can eat chicken and I can eat egg again

(dimuat di AIT Community School Newsletter, February 2004)

(The first time….)


Puisi I,
Gigiku ompong
Badanku kecil
Aku sedih
Temen-temen sering menghinaku
Tapi kata mama biar ompong rambutku bagus
Biar kecil aku pintar dan berani

Seneng sama mama
Biar temen-temen nakal
Sama mama asik
Dicium, dipeluk, diceritain, disayang
Aku jadi ngga sedih lagi
Terima kasih mama.

Puisi II,
Terima Kasih mama
Mama udah mau masak bikin susu nyuci baju nyetrika ke pasar nganter anggi sekolah nemenin anggi belajar dan bacain cerita sampe anggi tidur.

Cape ngga ma
Biar cape
Mamaku gendut tapi mamaku cantik
Kata ayah itu karena mama menyayangku dengan gembira

Terima Kasih mama
Anggi juga sayang mama

(terpilih sebagai Pemenang I sekaliguis Pemenang Favorit Lomba Menulis “Kasih Ibu” PediaSure dalam rangka memperingati Hari Ibu 22 Desember 2002)