Saturday, May 19, 2012

Relawan Shukoi dan Kebersatuan

Terletak di perbatasan Kabupaten Bogor dan Sukabumi, Gunung Salak akhir-akhir ini ramai jadi pembicaraan orang. Banyak orang mengira bahwa nama Salak pada Gunung Salak, dari kata buah Salak, eh... ternyata salah. Nama Salak diambil berdasarkan bahasa sansekerta, “Salaka” yang merupakan arti dari kata “perak“. 
Gunung Salak mempunyai beberapa puncak, puncak tertinggi pada Gunung Salak, yang disebut Salak I, memiliki ketinggian 2211 m dpl (diatas permukaan laut), lalu, ada pula Gunung Salak kedua, atau biasa disebut Salak II, dengan ketinggian 2180 m dpl, serta terakhir puncak Sumbul, yang memiliki ketinggian 1926 m dpl.
Kamis kemarin (17 Mei 2012) adalah hari kesembilan dilaksanakan operasi SAR atau proses evakuasi korban jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak. Kebetulan juga long weekend, maka ketika ada ajakan untuk ikut ke JOURNAList CENTER,  Disaster Management Center  di Cijeruk Sukabumi, langsung saya ok-kan. 
Begitu memasuki kawasan itu, wah…ternyata berbagai tenda dengan segala ukuran, warna dan jenisnya sudah begitu rapi tertata. Semua nampak bersatu, siap  bahu membahu melakukan apapun yang bisa dilakukan guna menolong para korban juga relawan yang membantu mengevakuasi korban.   Ada posko logistik, posko dapur umum juga (yang saya baru tahu) ada posko  sterilisasi, dimana seluruh anggota tim SAR dan relawan yang baru turun dari mengevakuasi korban, harus  langsung disterilisasi menggunakan cairan disinfektan dan air bersih, bukan itu saja, kalau dirasa perlu, mereka perlu disuntik dengan anti tetanus oleh tim medis.
Kecelakaan udara yang menewaskan 45 penumpang dan awak pesawat tersebut, telah menarik perhatian berbagai kalangan dan rakyat Indonesia. Tewasnya para penumpang Sukhoi yang melakukan joy flight dari Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta tersebut menuai simpati.  


Tercatat, hingga Kamis (17/5/2012) kemarin, jumlah relawan yang bergabung dengan tim pencarian dan evakuasi mencapai 2.063 orang. Mereka datang dari berbagai kalangan, mulai dari anggota TNI baik AD, AL, maupun AU dengan kesatuan terbaiknya masing-masing seperti Kopasus, Marinir, dan Paskhas. Juga ditambah personel dari komando kewilayahan, seperti Korem dan Kodim hingga Koramil.  Juga berbagai elemen masyarakat seperti dari PMI, komunitas pencinta alam (ketemu dengan komunitas Wanadri… mantaap, begitu dedicated banget…..) termasuk dari kalangan mahasiswa, juga DMC  Dompet Dhuafa yang membawa saya kali itu, semua kerasa sekali tulus banget!! Ditambah lagi berbagai stasiun televisi yang tak lelah meng-update berita buat para pemirsanya. Keletihan disiang hari harus ditambah dengan hawa dingin yang begitu menusuk dimaklam hari... bener-bener belajar banyak dari mereka!! Thx guys.... 

Kebersamaan, kesatuan dan persatuan terasa sekali di bawah kaki gunung salak ini.
Sebagai penutup, kesimpulan dari Cijeruk kali itu,  musibah ternyata bisa sedemikian kuat menyatukan kita semua. Ketika sebagian dari kita di dera derita, semua elemen masyarakat langsung bersatu, bahu-membahu memberikan pertolongan. Tidak ada pembedaan golongan, suku, juga agama. Semua bersatu untuk bisa menolong dengan apapun yang bisa kita perbuat.

Kenapa ya harus  terlebih dulu menunggu musibah untuk menyatukan bangsa ini?  Bukankah akan lebih indah jika sebagai sebuah bangsa kita bisa bersatu membangun negeri dan hidup damai tanpa adanya pertikaian dan kekerasan…. Dan tanpa diawali dengan jatuhnya korban jiwa terlebih dahulu….

2 comments:

andre ericson said...

wowww... hebat2 jadi relawan sukhoi...
tapi kgk ngajak2... :D

andre ericson said...
This comment has been removed by the author.